Malang, suararepublik.news- Bertempat di gedung A Universitas Hukum Brawijaya Malang Rabu (20/11/19), telah diselenggarakan program Doktor ilmu hukum. Dari salah satu peserta akademisi, Dr.Binsan Ripmal Simarangkir, S.H,M.H menyampaikan Disertasinya “lembaga keuangan di Indonesia terdiri dari lembaga keuangan Bank dan bukan Bank, kalau bidang usaha dilingkungan Bank salah satunya adalah penyelenggaraan bidang usaha money changer yang melayani perdagangan atau Penukaran Valuta Asing (PVA)” katanya.

      Seiring perkembangan perekonomian, keberadaan money changer sangat berkembang pesat bahkan keberadaannyapun sampai diluar lingkungan Bank dan disebut Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing-Bukan Bank (KUPVA-BB) yang diatur dalam peraturan Bank Indonesia nomor:18/20/PBI/2016. Namun Binsan mengatakan “pada peraturan Bank Indonesia tidak mengatur tentang larangan penyelenggaraan KUPVA-BB yang tidak berizin serta tidak mengatur tentang kewenangan pengawasan dan penegakan hukumnya” tambah Binsan.

      Pada tahun 2017 perkembangan KUPVA-BB yang berizin sebanyak 1812 unit usaha dan yang tidak berizin sebanyak 1604 unit usaha. Sehingga yang ilegal mengakibatkan penerimaan Negara dibidang pajak berkurang. Lanjut pria yang juga menjabat sebagai kanit Diskrimsus bidang ekonomi mabes Polri.

     KUPVA-BB yang tidak berizin alias ilegal, Binsan menjelaskan “bisa menjadi sarana perbuatan tindak pidana yang lainnya seperti tindak pidana pencucian uang, pendanaan teroris, penipuan dan perdagangan narkotika”. Hal ini, karena tidak diaturnya larangan dan sanksi hukumnya terhadap KUPVA-BB yang ilegal sehingga adanya kekosongan hukum”jelas Binsan.

     Binsan berharap, untuk itu kedepannya Pemerintah baik eksekutif dan legislatif perlu melakukan rekonstruksi pengaturan KUPVA-BB yang tidak berizin, untuk membuat undang-undang yang bisa menjadi sarana atau metode bersifat memaksa guna mengurangi tindak pidana yang notabanenya KUPVA-BB dijadikan sebagai sarana, dan yang jelas bisa menambah pendapatan Negara melalui pajak, terangnya mengakhiri pembicaraan. (lus)