Foto: Almarhum Firdaus.

Suararepubliknews, Cilegon – Firdaus, warga Kampung kalodran Serang-Banten,  berprofesi sebagai sopir Tanki yang membawa Kimia MEG, tewas di wilayah bujuk Polres Cilegon, Banten, pada tanggal 3 Mei 2021. Korban meregang nyawa diduga dianiaya karena ada luka memar di seluruh tubuh dan tangan patah.

Dari hasil liputan wartawan dari tim tujuh, kronologis kejadian pembunuhan, terjadi pada tanggal  (03/05/2021) malam. Korban (Firdaus) diduga dicegat oleh oknum wartawan dan  oknum TNI dari salah satu kawasan Cilegon tanpa alasan yang pasti dan masih dalam pengungkapan oleh pihak kepolisian.

Saat dicegat oleh oknum yang di sebut, korban masih keadaan sehat. selanjutnya oleh oknum diarahkan ke polres Cilegon. Tapi dari polres Cilegon diarahkan ke Polda Banten untuk membuatkan laporan.

Dan kejadian naas tersebut pun terjadi saat perjalanan menuju Polda Banten, dengan tiba tiba korban dikabarkan sekarat dan  meninggal saat hendak dibawa menuju rumah sakit terdekat.

Hingga tanggal 04/05/2021, kendaraan yang dibawa korban (almarhum Firdaus) masih ada di wilayah hukum Cilegon.

Namun saat wartawan dari team tujuh, menelusuri  untuk mencari fakta, ternyata dari penyampaian salah satu masyarakat setempat, membenarkan bahwa ada sopir tangki yang meninggal, namun kabar yang didapat dari masyarakat mengatakan sopir tangki tersebut meninggal karena penyakit jantung yang di derita.

“Saya baru tahu kabar pagi pak, soalnya saya heran kok ada mobil tangki di pinggir jalan, namun lampu sen sebelah kanan menyala, penasaran saya bertanya kepada teman, dan teman menyatakan bahwa sopir tangki meninggal informasi dari kepolisian yang datang ke lokasi,” ungkap orang yang tidak mau disebut namanya ini.

“Tapi malam hari pas kejadian, kata teman saya juga, ada anggota yang datang tiga orang dan mirip anggota namun beberapa menit pergi lagi. Tapi teman saya tidak tahu kenapa mereka datang ke sana,” tambahnya.

Mendapat informasi dari warga tersebut, wartawan dari team tujuh langsung mendatangi kantor Denpom desemen III/IV, dari informasi yang didapat dari pos kantor Denpom membenarkan ada kejadian tersebut, dan mengakui bahwa sudah ada tim Denpom turun.langsung ke lokasi kejadian untuk mendapatkan kebenaran berita tersebut.

Selain itu, informasi yang di himpun oleh awak media, bahwa di duga ada oknum TNI dari satuan khusus yang terlibat dari pembunuhan sopir tangki yang membawa zat kimia tersebut. Namun pihaknya belum mengetahui pasti. “Iya, ada yang terlibat salah satu oknum TNI satuan khusus,” terang anggota piket Denpom serang.

Disela-sela pembicaraan salah satu anggota Denpom menyarankan wartawan team tujuh untuk mendapatkan informasi yang valid dalam kasus ini, menyuruh menanyakan langsung ke Polda Banten.

Dasar usulan tersebut, wartawan team tujuh bergegas langsung mendatangi Humas Polda. Namun yang sangat mengherankan saat ketemu AKP Yudhistira bagian humas menyatakan pihaknya belum ada laporan tersebut. Namun kesigapan AKP Yudhistira dirinya langsung menelpon anggota reskrim dari polres Serang dan Polres Cilegon untuk mendapatkan data.

“Kita sudah telpon dan belum ada laporan atas sopir tangki meninggal, namun kita akan dalami kasus informasi dari wartawan,” janjinya.

Namun apabila kasus ini sudah mendapatkan laporan, kita hanya bisa memeriksa pelaku dari sipilnya saja, kalau anggota itu akan diperiksa dari kesatuan,” jelas Humas Polda Banten di ruangan.

Berbeda dari keterangan keluarga korban(Almarhum Firdaus) dari penjelasan yang didapat dari keluarga korban, bernama Sakri kondisi korban meninggal sangat parah, dimana di dada korban membengkak biru, dan di pinggang juga luka memar membiru, yang sangat mengerikan tangan korban juga mengalami patah tulang.

“Saat ini korban sudah kami kebumikan, untuk masalah masalah kasus kami sudah laporkan ke pihak berwajib yakni polsek dan polres Cilegon, kata Sakri

Ditambahkannya korban, tak ada kabar sejak tanggal (03/5/2021) lalu. Namun pagi harinya, tanggal (04/5/2021) pihaknya mendapatkan kabar korban sudah meninggal.

“Kami ingin mendapatkan kebenaran, kenapa saudara kami bisa meninggal sangat tidak wajar,  seperti ada penganiayaan, dari luka yang diderita korban hingga meninggal,” tandasnya.

(TIM)