Jakarta, Juli 2021, Suara Republik  News, Sampah adalah  sisa-sisa aktifitas Manusia dan alam  yang belum memiliki  nilai ekonomis, Sampah perlu dikelola supaya tidak mencemari ligkungan . Ada begitu banyak  kegiatan manusia yang menghasilkan  sisa berupa material tak berguna. Materi ini terus bertambah  setiap hari selama manusia masih melakukan aktifitasnya.

Apabila  kondisi ini   terus dibiarkan  maka yang terjadi  adalah material sisa tersebut  akan bertumpuk dan akan menimbulkan masalah serius. Penumpukan sampah  di alam harus diatasi dengan pengelolaan yang baik, Karena jika tidak , akan berdampak buruk bagi seluruh komponen  kehidupan  seperti hewan dan tumbuhan  termasuk manusia, belum lagi jika  limbah tersebut tidak bisa terurai  dan akan membuat pencemaran  lingkungan  lebih parah.

Sampah dalam pengertian umum diartikan sebagai  semua benda yang  tidak digunakan lagi oleh mahluk hidup  sehingga sifatnya menjadi buangan. Para ahli berpendapat seperti  Menurut Azwar sampah merupakan  Sebagian dari sesuatu  yang tidak digunakan lagi, tidak disenangi atau memang harus dibuang Sementara Basryanta berpendapat bahwa sampah merupakan  material yang sudah tidak dibutuhkan  dan tidak berguna lagi sehingga pemilik membuangnya.  Pengertian sampah  diatur dalam UU nomor 18 / 2008 Sampah ialah sisa kegiatan sehari-hari manusia  atau sisa proses alam  yang Semua sampah bisa datangnya dari sampah Rumah tangga, Pabrik maupun industri lainnya. Yang bermuara ke sungai, waduk , danau dan laut. Sehubungan sampah  yang dialirkan ke Sungai , akan diangkut oleh Penyedia Jasa Lainnya Perorangan, ( PJLP) UPK Badan Air Dinas Lingkunga hidup  DKI Jakarta. Terkait mengangkat sampah dari kali,  ditemui di pinggir kali Cipinang lokasi  tempatnya bekerja berbicang-bincang dengan Purnomo Operator Beko yang mengangkat sampah dari kali ke dalam truk,( jenis Typer-red) mengatakan bahwa setiap hari sampah yang diangkat paling satu truk.

Kecuali  kata dia  jika musim hujan datang  bisa dua  s.d tiga truk dan itu diangkut ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS ) di Perintis Kemerdemaan.Setelah banyak  dari berbagai aliran setiap Kecamatan, baru akan diangkut ke  Tempat Pembuangan Akhir ( TPA) di Bantar Gebang dengan menggunakan truk tronton kata Purnomo yang didampingi rekannya Anas yang  turun kekali mulai dari pinggir tol Cikampek Hingga  ke Penyekatan PHDP. Lokasi lainnya juga seperti di belakang BASURA yang tidak dapat dilalui truk akan diangkut dengan mobil carry ujar Purnomo. Jurnalis Suara Republaik News sebenarnya ingin bertemu dengan pemantau  (haji Pei-red)  di Kecamatan Jatinegara . Namun   tidak ada diposnya ditanya kepada pemilik warung yang berada disebelah posnya dia tidak tau, biasanya kalo makan siang disini kan bu ? gak pernah lagi opung ujarnya  keduakali pas jam makan juga dikunjungi  kesitu tapi juga tdk ada di posnya. Mungkin monitoring ?   Kenapa perlu ketemu dengan  haji Pei ? ( pemantau ) karena sebagai pemantu lebih banyak tau informasi tentang sampah dan sering ketemu dengan pemantau lainnya untuk saling tukar informasi terutama masalah sampah. Karena Ditiap aliran juga di lakukan pengumpulan botol /gelas aqwa bekas yang dari aliran untuk di jadikan  bernilai ekonomis. Penulis jadi teringat pada Januari 2016 melakukan  suatu presentase proses mengolah sampah menjadi berkah melalui  bendera LSM Fajar Keadilan , Karena masalah sampah  bukan semata-mata  Tanggung jawab Pemerintah saja , melainkan tangggung jawab kita semua. Bersama teman aktivis Lingkungan hidup mepresentasekan  pengolahan sampah  yang memiliki nilai ekonomis. LSM Fajar Keadilan  menawarkan kepada  Stake holders Dinas Kebersihan (nama dulu-red) yang sekarang menjadi UPK Badan Air Lingkungan Hidup DKI Jakarta dibawah Pemda DKI, melibatkan masyarkat  grass root menanggulangi sampah agar memiliki nilai ekonomis dengan sitem tutorial, melatih  masyarakat menjadi tutor   bagi  warga dilingkungannya. Karena  pengelolaan  sampah berbasis masyarakat menjadi metode pengelolaan yang relevan dan sangat mendesak.  

Sayangnya, Pemaparan tentang pengolahan sampah menjadi berkah ini, tidak bersambut oleh stake holders Dinas lingkungan Hidup DKI Jakarta karena ketiadaan  modal. (Ring-o)