Suararepublik.News – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu berseteru dengan guru besar Universitas Airlangga (Unair), Prof Henry Subiakto di media sosial.

Perseteruan Said Didu vs Henry Subiakto bermula ketika Henry Subiakto membagikan foto wisuda Jokowi bersama teman-temannya di Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Siapa sangka foto wisudawan Fak Kehutanan UGM di Balairung tahun 1985 ini ada yg jadi presiden RI ke 7. Hayo di nomer berapa pak Jokowi?,” cuit @henrysubiakto.

Cuitan itu kemudian dikomentari oleh akun Twitter @kandargalang. Ia meminta teman seangkatan Jokowi ikut membagikan foto lain Jokowi saat wisuda.

“Ayo siapa yg kuliah di Fak Kehutanan UGM angkatan 1980 ato seangkatan Pak Jokowi, dan siapa di Fak Kehutanan UGM yg barengan wisuda bersama Jokowi, pasti kalian punya photo barengan ramai2 saat wisuda tersbeut. Jgn sampai ada prasangka negatif rakyat trhdp Pak Jokowi dlm hal ini,” tulisnya.

Said Didu lantas menanggapi cuitan @kandargalang. Ia memberikan kuis kepada teman kuliah Jokowi yang mengaku seangkatan dengan Jokowi.

“Kalau ada yg ngaku, hadiahnya sepeda atau kaos #ManusiaMerdeka?” kata Said Didu di akun Twitternya @msaid_didu.

Henry Subiakto kemudian mengomentari berita tentang Said Didu. Ia mengatakan sudah lama tidak percaya dengan mantan pejabat yang berjiwa khianat.

“Saya walau kenal baik dia, tp sdh lama tdk percaya model mantan pejabat yg berjiwa khianat,” kata Henry.

Said Didu yang merasa dituduh sebagai pengkhianat langsung membalas cuitan Henry.

“Tuduhan anda serius (penghianat). Pak Hendry ini yg dulu salah satu komisaris BUMN kecil ya. Maaf lupa. Yg juga selama ini sebagai PNS tapi jelas memihak saat pilpres. Ngaku ahli komunikasi tapi menuduh dari sumber berita yg salah. Kasihan mahasiswa anda punya dosen tdk kredible,” kata Said Didu.

Ia menuding Henry sebagai professor yang selalu menjilat penguasa di media sosial.

“Ada seorang professor yg mentionnya di medsos hanya menjilat penguasa sambil menuduh orang lain yg tidak menjilat dg julukan penghianat. Mungkin menurut professor tsb bhw penghianat adalah yg tidak menjilat,” tambahnya.

Tak tinggal diam, Henry Subiakto kembali menanggapi cuitan Said Didu. Ia menyebut Said Didu tak bisa membedakan antara kata ‘menuduh’ dan ‘menilai’.

“Kayaknya saya perlu kasih kuliah, apa beda menuduh dan menilai nih. Ada orang merasa pinter tapi tdk paham konsep menuduh dan menilai, atau berpendapat. Hukum bisa kacau kalau orang gak paham beda pengertian menuduh dan menilai orang,” tandas Henry Subiakto. ( red )