KEJADIAN pilu itu akan terkenang sepanjang hidupnya. Terombang-ambing di atas kapal tanpa sedikitpun makanan menjadi derita teramat pedih Louis de Bougainville. Penjelajah Prancis tersebut harus berjuang melawan rasa lapar dan ganasnya ombak samudera selama berbulan-bulan. Sejatinya mereka akan menuju Batavia, sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Namun kondisi angin membuat para pelaut ini kehilangan arah hingga akhirnya tiba di sebuah pulau, yang kemudian mereka sebut Boero (Buru). Bagi mereka Buru adalah surga. Surga yang tergapai setelah terjerat jurang neraka.

Sekira pukul 10 malam pada suatu hari di bulan September 1768, pijar api dari Pulau Buru telah menyelamatkan Bougainville dan anak buahnya. Para awak terus mengikuti keberadaan cahaya tersebut sampai nampak sebuah daratan. Namun Si Kapten tidak buru-buru menurunkan jangkarnya. Ia tidak ingin kedatangan mereka malah mengusik pemilik pulau tersebut.

Dalam catatan perjalanannya, A Voyage Round the World: Performed by Order of His Most Christian Majesty in the Years 1766-1769, Bougainville menyebut kalau ia telah mengetahui jika Belanda berkuasa di sana. Tetapi karena kekurangan informasi tentang situasi politik di Eropa, maka ia harus berhati-hati dalam membuat keputusan. Meski begitu, keadaan di atas kapal memaksa Bougainville untuk segera mencari bantuan. Semua orang sudah benar-benar kelaparan. Ditambah setengah anak buahnya membutuhkan perawatan medis akibat penyakit kulit yang mereka derita.

“Setengah awak kapal kami sudah tidak bisa menjalankan tugas. Seandainya kami memaksa untuk tetap melaut selama delapan hari lebih lama, kami akan kehilangan sebagian besar awak kapal dan kami semua akan sakit,” tulis Bougainville.

Sejak tengah malam, kata Bougainville, tercium bau yang amat harum dari arah pulau. Ia yakin aroma yang sangat menenangkan itu berasal dari tanaman aromatis yang berlimpah di Maluku. Sensasi wangi yang lama tidak mereka rasakan itu telah meninggalkan bekas di indera penciuman Si Kapten dan awak kapalnya.

“Saya membebaskan setiap orang berimajinasi betapa situasi ini membuat Pantai Boero jadi terlihat begitu indah di mata kami… Saya hanya bisa merasakannya tapi tak mampu menjelaskannya,” kata Bougainville sebagimana dikutip George Miller dalam Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992.

Di tengah lamunannya, Bougainville dikejutkan dengan kedatangan dua perwira Belanda dari arah pulau. Mereka bertanya tujuan rombongan tersebut. Ia lalu menjelaskan kejadian yang telah menimpa mereka. Dalam sebuah surat, Bougainville meminta pejabat setempat memperbolehkan kapalnya merapat. Meski tahu perbuatannya itu melanggar aturan perdagangan antara VOC dan negaranya, bahwa hanya kapal milik VOC yang boleh berlabuh di seluruh wilayah Maluku, ia tetap harus menyelamatkan nyawa awak kapalnya.

Awalnya ia tidak mendapat persetujuan dari Gubernur Ambon sebagai penanggungjawab atas Pulau Buru. Namun kepala daerah Buru saat itu, Henry Ouman, memberi pengecualian. Ia meminta Bougainville membuat surat penjamin, yang akan digunakan sebagai tanda masuk mereka di Buru. Sejak itu segala urusan Bougainville dan awak kapalnya, dijamin langsung oleh Ouman.

“Dengan mudahnya ia menawarkan segala yang ia punya seakan-akan ingin memberikan semua yang kami butuhkan. Kendati kedatangan kami telah membawa aib baginya, ia tetap menyambut kami dengan sangat baik,” ucap Bougainville.

Keramahan Ouman dan penduduk Buru membuat para pelaut Prancis ini terharu. Bahkan di dalam sebuah jamuan makan, para penduduk Buru hanya melihat Bougainville dan kawan-kawannya melahap habis makanan di hadapannya, yang bahkan terkesan rakus. Pemandangan itu pun semakin meyakinkan Ouman bahwa kondisi orang-orang Prancis ini sudah begitu gawat.

“Seseorang agaknya harus menjadi pelaut dulu dan mengalami kondisi ekstrim seperti yang kami alami untuk memahami sensasi yang dirasakan orang-orang dalam kondisi seperti kami saat melihat makanan hijau dan segar melimpah di depan mata,” kata Bougainville. “Makan malam itu merupakan momen terindah dalam hidup saya.”

Hari ke-3 di pulau Buru, Bougainville membawa turun awak kapalnya yang sakit agar bisa diberi perawatan. Ia pun telah mendapat izin untuk bekeliling pulau. Dan kesempatan itu dimanfaatkan anak buahnya untuk menghibur diri, melepaskan seluruh penderitaan yang beberapa saat lalu menghantui mereka.

Bougainville memanfaatkan waktunya berbincang dengan Ouman. Sambil sesekali berburu rusa di hutan bersama sang tuan rumah. Baginya saat-saat itu sungguh menyenangkan. Seakan ia tidak ingin meninggalkan pulau yang indah tersebut. Namun Si Kapten sadar bahwa semakin lama ia tinggal di sana, maka posisi Ouman akan semakin sulit. Bougainville memutuskan untuk tinggal paling lama seminggu, sampai keperluannya menuju Batavia sudah terpenuhi semua.

Dalam suatu kesempatan, Bougainville membuat kesepakatan dengan para pedagang Buru. Ia membeli sejumlah kebutuhan, seperti lembu, domba, unggas, beberapa karung beras, sedikit kacang-kacangan, telur, beberapa jenis buah, serta minuman. Hari ke-6 semua barang keperluan diangkut ke atas kapal. Bougainville dan rekan-rekannya mengadakan pesta untuk terakhir kalinya di pulau yang telah menyelamatkan hidup mereka tersebut. Hari ke-7, pagi-pagi sekali, para pelaut Prancis ini sudah siap berlayar.

“Bahan pangan segar dan udara Boero yang menyegarkan telah banyak membantu awak kami yang sakit. Tinggal di daratan walaupun selama enam hari saja membuat kondisi mereka bisa cepat pulih atau setidaknya mencegah agar kesehatan mereka tidak memburuk,” ucap Bougainville.

sumber: historia