Pamulang – Ketua Fraksi PSI DPRD Tangerang Selatan (Tangsel), Ferdiansyah, meminta agar Pemkot kian responsif menyelesaikan permasalahan sampah di Tangsel.

Hal ini dia ungkapkan usai bertemu warga di kawasan Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Tangsel. Warga sekitar mengeluhkan tempat pembuangan sampah sementara yang liar di sekitar tempat tinggalnya. Sampah ditumpuk dan dibakar hingga 4 kali per hari.

“Usai kami berkunjung ke rumah warga pekan lalu, saya langsung berkoordinasi dengan Kelurahan dan dinas terkait untuk ditangani segera. Pemkot harus sering turun ke masyarakat melihat fakta di lapangan,” ujar Ferdi yang sebelumnya berprofesi sebagai Guru.

Ferdi menjelaskan usai koordinasi, dinas lingkungan hidup datang dalam waktu tidak terlalu lama dan mengangkut sampah yang sudah menumpuk.

Ferdi mengatakan juga dalam satu ruas jalan yang dia kunjungi, bisa dilihat langsung 4-5 tempat pembuangan sampah sementara yang liar. Sebagian menutup saluran air, menimbulkan bau tak sedap. “Pemkot harus serius menangani sampah di kawasan yang padat penduduk terutama perkampungan,” tegasnya.

Donny Virgorito, warga sekitar, mengapresiasi apa yang dilakukan Ferdi terkait penanganan tempat penampungan sampah liar di lingkungannya. “Sudah bertahun-tahun sampah ini meresahkan warga sekitar. Asap, bau, dan lingkungan sekitar jadi kotor. Belum juga mengakibatkan penyakit.

Kokok Herdhianto Dirgantoro, bacawalkot Tangsel mengatakan permasalahan sampah di Tangsel merupakan salah satu permasalahan serius perkotaan.

“TPA Cipeucang kapasitasnya sudah terbatas. Perlu ada upaya serius menangani tumpukan sampah lama dan masuknya sampah baru. Dengan potensi produksi sampah Tangsel per hari mendekati 1000 ton, tentunya butuh penanganan strategis untuk jangka pendek dan menengah,” jelasnya.

Kokok juga mempertanyakan sejauh mana PLTSa yang akan dibangun sebagai salah satu solusi penyelesaian sampah. “Saya berharap PLTSa ini segera ada kejelasan, sampai di mana tahapannya. Apa permasalahannya sampai saat ini? Investasi? Harga listrik per kwh? Atau tipping fee? Semakin transparan semakin baik karena yang mengawasi semakin banyak,” kata Kokok.

Sampah di Cipeucang menimbulkan bau yang sangat mengganggu di beberapa kelurahan sekitar Kecamatan Setu dan Kecamatan Serpong.

Paralel dengan penyelesaian Cipeucang, Kokok menyarankan agar ada upaya penyelesaian sampah di perkampungan berbasis komunitas. “Banyak hal bisa dilakukan dengan mengajak masyarakat memilah sampah, menggunakan black soldier fly, dekomposter, bahkan mungkin bisa pemkot bekerjasama dengan kampus di Tangsel untuk mengaplikasikan keilmuan terkait penyelesaian sampah di wilayah padat penduduk.”tukasnya.(Badrul)