Suararepublik.news Tulungagung 16/06/2021,,Adanya peremajaan Tanah pertanian (optimalisasi) yang berlokasikan didesa Bangunjaya kecamatan Pakel terkesan di proyek (demi keuntungan  oknum) hal ini dirasakan oleh Lembaga Pengawas Reformasi Indonesia (LPRI) melalui Badan Intelijen Investigasi (BII) saat melakukan Investigasi diseputaran Desa Bangunjaya

Haji Jumarli selaku Kepala desa Bangunjaya saat dikonfirmasi melalui whatsapp engan untuk memberi keterangan namun mengalih kepada IMAM yang menurutnya merupakan Ketua kelompok kerja (pokja) dalam pengalian Lahan pertanian (peremajaan tanah) seluas 9 hetar tersebut.

“Langsung saja menghubungi nomer ini selaku ketua pokja,dengan mengirim nomer telepon Imam”.tulis dipesan singkat

Sedangkan  Imam,saat dikonfirmasi  menegaskan bahwasanya dia bukanlah Ketua pokja melainkan hanya membantu dalam mencarikan alat berat (bego),”Saya bukan ketua pokjanya yang jelas perangkat desa dan masyarakat meminta bantuan kepada saya untuk mencarikan alat berat”.tegas imam

Sementara itu Jarwo selaku Sekretaris desa Bangunjaya menjelaskan runtutan dimana terlaksananya Peremajaan lahan pertanian tersebut,”Dalam rangka optimalisasi lahan pertanian seluas 9 hektar itu masuk dari desa Sanan melewati jalan kurang lebih 3000 meter,saat ini saluran airnya penuh dengan sampah dan untuk pembuangan rumah warga.Sementara jika kami dari pemerintah desa Bangunjaya tidak memungkinkan untuk melakukan pembangunan,maka dari itu saluran air kami alihkan dengan jarak yang dekat.Namun dengan mengambil langkah melakukan penurunkan ketinggian tanah 20 cm,dengan Ijin dari Dinas pertanian serta tembusan ke Muspika kecamatan Pakel.Adapun kesepakatan saat pengalian,Tanah tidak boleh dibuang diluar desa Bangunjaya dan harga ketentuan per-Ledok (angkutan) sebesar Rp.70.000.00 (tujuh puluh ribu rupiah),dari hasil penjualan Tanah itu digunakan untuk operasional alat berat dan Ledok.Untuk inkam pihak pemerintah desa  Tidak menerima dan tidak mengetahui berapa pendapatan perharinya, pembayarpun langsung ke Pemilik Ledok selanjutnya disetorkan ke Imam,hanya saja ada perangkat desa (kepala dusun) yang menerima sebagai imbalan penunjuk jalan (Plantho)”.jelas Jarwo

Disisi lain Tim Badan Intelijen Investigasi LPRI menemukan berbagai kejangalan saat melakukan investigasi dilapangan seperti halnya harga jual lebih dari Tujuh puluh ribu rupiah (Rp.70.000,00) bahkan sampai Seratus dua puluh ribu rupiah (Rp.120.000,00) Per Ledok,Angkutan berupa Ledok yang merupakan kendaraan tanpa Surat yang keluar masuk ke jalan raya tanpa memenuhi standard keamanan,dijual keluar dari wilayah Desa Bangunjaya…..Yps/Kbt