Ilustrasi gambar

Jakarta, Suararepublik.news – Pasangan calon (paslon) yang berkompetisi di Pilkada 2020 diharap bisa saling bekerjasama mencounter berita hoaks maupun isu kedaerahan yang menyerang di media sosial (medsos). Maklum saja, masa pandemi Covid 19 pengguna medsos sangat tinggi.

Hasil survei dari Firma Konsultan Kantar misalnya menyatakan, pengguna medsos seperti WhatsApp terus tumbuh di masa pandemi. Maret saja, penggunaan aplikasi itu secara global melonjak sampai 27 persen, lalu naik lagi hingga 40 persen. 

Sedangkan penggunaan WhatsApp khusus di negara- negara yang sudah dalam fase krisis pandemi melonjak hingga 51 persen. Begitu juga dengan medsos milik Facebook lainnya Instagram. Dalam demografi sama, penggunaan Instagram melonjak lebih dari 40 persen.

Pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing mengatakan, besarnya penggunaan medosos di masa pandemi cukup wajar. Sebab masyarakat mulai memandang cara berkomunikasi secara virtual mampu mengurangi potensi penularan covid 19.

Hanya saja, lanjut Emrus, karena pandemi Covid-19 belum diketahui akan berakhir dan di sisi lainnya Indonesia akan menghadapi pilkada, maka trend penggunaan medsos ini harus disikapi secara bijak.

Berkaca pada Pilkada 2018 dan Pemilu 2019, sebut dia, berita hoaks maupun isu berbau daerah cukup marak dilakukan melalui medsos. Hal ini harus diantisipasi para paslon berkompetisi.

Cara paling bijak untuk menangkal berita hoaks yang dikirim lewat jejaring medsos, sebut Emrus, adalah dengan kerjasama antar paslon. Maksudnya, para paslon saling bekerjasama mencounter berita hoaks maupun isu-isu primordial yang menyerang satu sama lain. “Jadi kalau rivalnya diserang hoaks, maka paslon satunya lagi harus mengcounternya,”jelasnya.

Menurut dia, sudah sewajarnya para elite saling adu gagasan dalam pilkada. Bukan membiarkan hoaks merajalela untuk kemenangan di pilkada. “Pemilu pada umumnya itu harus adu gagasan siapa yang punya gagasan paling baik itu yang menang,” tandasnya.

Polda Kepulauan Riau (Kepri) mengakui, masih adanya kerawanan berita hoaks di pilkada. Mereka akan menggelar patroli siber untuk memantau penyebaran berita bohong di dunia maya saat pelaksanaan pilkada yang akan dihelat di Kepri dan 6 kabupaten/kota.

“Polda Kepri dan jajaran akan melakukan patroli siber untuk memantau langsung penyebaran hoax di media sosial, kerja sama dan sinergitas dengan Bawaslu tentunya merupakan hal yang penting,” ujar Humas Polda Kepri Kombes Pol Harry Goldenhardt.

Harry menyebut, Kapolda Kepri Irjen Aris Budiman sudah menegaskan pihaknya bekerja agar pilkada berjalan aman dan lancar. Kapolda juga menegaskan netralitas lembaganya. Menurutnya, setiap personel di Polda Kepri dan jajaran mengerti mengenai hal itu. “Kami akan sangat netral pada pilkada nanti- nya”, tandasnya. [SRN]