Oleh : Ariyawan Sunardi, S.Si, M.T

Dosen Teknik Elektro – Universitas Pamulang (UNPAM)

Deskripsi:

Sebelum penerapan new normal di sekolah setiap sekolah harus bersiap dengan panduan protokol kesehatan untuk COVID-19.

Semua instansi pendidikan menghentikan proses belajar mengajar di sekolah sejak tiga bulan lalu saat masa pandemi dimulai. Kegiatan belajar diganti secara daring dari rumah yang masih dirasa kurang efektif. Akankah new normal bisa mengembalikan proses pembelajaran berjalan normal seperti sedia kala?

Wacana kenormalan baru dalam bidang pendidikan ini terus digodok oleh pemerintah. Setiap daerah mulai bersiap dengan menyusun protokol kesehatan dalam proses pembelajaran di sekolah. Di Jakarta, sekolah akan masuk bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru 2020/2021 pada 13 Juli mendatang.

Namun sekolah harus memenuhi kesiapan perangkat dan prosedur kesehatan agar tidak menimbulkan dampak lebih buruk. Salah seorang profesor epidemologi Dicky Budiman, seperti yang dilansir Kompas.com menjelaskan bahwa sekolah harus melakukan pola sekolah baru di tengah pandemi.

1.        Skrining Kesehatan Guru dan Karyawan

Panduan umum pelaksanaan sekolah baru ini dimulai dari skrining kesehatan untuk guru dan karyawan sekolah. Kemudian skrining zona sekolah apakah masuk dalam zona berbahaya pandemi atau tidak. Skrining ini dilakukan untuk memfilter sekolah mana diperbolehkan untuk sekolah new normal.

2.        Tes COVID-19

Setelah skrining masih ada prosedur untuk melakukan tes COVID-19. Tes yang diberlakukan harus menggunakan metode RT-PCR yang sesuai dengan standar WHO. Jika terjadi keterbatasan biaya, bisa dilakukan pooling tes yaitu menggunakan sampel sebanyak 30 orang saja.

3.        Sosialisasi Virtual

Kemudian harus ada sosialisasi virtual yang melibatkan pihak orang tua. Sosialisasi ini berkaitan dengan pemberlakuan prosedur new normal sekolah. Setidaknya sosialisasi ini dilakukan seminggu sebelum masuk sekolah.

4.        Mengatur Waktu Belajar

Panduan selanjutnya adalah dengan mengatur waktu kegiatan belajar mengajar. Salah satu wacana yang masih digodok adalah dengan memberlakukan dua gelombang jam masuk sekolah. Kemudian untuk SD kelas 1 sampai dengan kelas 4 hanya masuk dua hari saja, sedangkan kelas 5 dan 6 masuk 4 hari.

5.        Posisi Tempat Duduk

Dalam panduan tersebut juga menyebutkan pengaturan tempat duduk bagi peserta didik. Harus ada jarak sekitar 1,5 meter dari setiap tempat duduk.

6.        Social Distancing

Peserta didik tidak boleh berkumpul. Karena itu pemantauan dari para guru sangat penting untuk mengatur peserta didiknya agar tidak berkumpul.

7.        Protokol Kesehatan COVID-19

Peserta didik dan semua guru atau karyawan juga wajib menggunakan masker. Disediakan tempat cuci tangan di setiap kelas dan beberapa lokasi.

8.        Aturan Berangkat Sekolah

Orang tua juga harus mengantar sendiri para peserta didiknya. Tidak diperbolehkan bagi para orang tua mengantarkan anak murid bersama tukang ojek.

9.        Kerjasama dengan Tenaga Kesehatan

Terakhir dalam panduan sekolah baru tersebut, pihak sekolah juga harus mempersiapkan UKS di sekolah. Pihak sekolah bisa bekerjasama dengan tenaga medis setempat. UKS yang bekerjasama dengan tenaga medis akan melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap semua orang yang berada di sekolah.

Wacana pemberlakuan sekolah new normal ini masih terus dimatangkan. Karena masih menyisakan pro dan kontra. Persoalannya adalah keterbatasan dana dari sekolah untuk melaksanakan protokol kesehatan yang pastinya sangat besar.

Belum lagi ketika dilakukan dua gelombang jam masuk sekolah, otomatis membutuhkan tenaga pengajar lebih banyak lagi. Meski demikian, aturan new normal di sekolah tetap akan dijalankan dengan berbagai macam persoalan yang ada di dalamnya. Sehingga butuh kerjasama antara pemerintah, pihak sekolah, dan orang tua.