Jakarta, Suararepublik.news – Pulau Ranai di Natuna, Kepulauan Riau dipilih pemerintah menjadi lokasi karantina 250 warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, China. Hal ini akibat makin merebaknya wabah Virus Corona sejak akhir Desember 2019. Mendengar hal itu, warga Natuna menolak wilayahnya dijadikan karantina.

Apa yang membuat pemerintah memilih Natuna? Berdasarkan data, 2 Februari 2020, menurut Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto karena lokasinya yang jauh dari penduduk.

“Jadi, Natuna sebagai lokasi transit observasi sementara sampai dinyatakan bebas dan bisa bertemu keluarga. Ini pilihan yang terbaik,” ungkapnya.

Selain itu, Hadi melanjutkan, Natuna adalah pangkalan militer yang memiliki fasilitas rumah sakit yang dikelola oleh tiga matra yaitu TNI AD, AL dan AU. Natuna juga memiliki landasan pacu yang berdekatan dengan wilayah yang nanti digunakan untuk isolasi.

“Jarak dari hangar itu sendiri sampai ke lokasi penduduk kurang lebih mungkin antara lima sampai enam kilometer. Dari hasil itu memenuhi syarat untuk protokol kesehatan, sehingga nanti saudara-saudara kita yang datang turun dari pesawat langsung tempat penampungan yang mampu menampung sampai 300 orang,” tegas Hadi.

Sebagaimana diketahui, Natuna tidak lepas dari keberadaan pangkalan militer Indonesia. Daerah ini punya posisi yang cukup strategis sebagai wilayah perbatasan dengan beberapa negara, dan tentunya, Laut China Selatan.

Sementara itu, sebanyak 250 WNI dari Wuhan rencananya akan dijemput oleh 42 relawan. Para relawan ini dibekai pakaian khusus antivirus serta sejumlah peralatan untuk melindungi dan membantu mereka ketika melakukan evakuasi WNI di Wuhan nanti.

“Ke-42 relawan ini adalah gabungan dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, TNI, dan unsur lainnya,” ungkap Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi.

Ia mengatakan sebanyak 245 WNI ditambah 5 anggota tim aju yang akan dipulangkan ke Indonesia. “Jadi jumlah total yang kembali dari Wuhan ke Indonesia adalah 250 orang,” tuturnya.

Meski mendapat penolakan dari warga Natuna, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menegaskan bahwa ke-250 WNI itu dalam kondisi sehat walafiat.

“Nanti akan kita lakukan yang namanya transit observasi sesuai protokol WHO dan tentu saja itu membutuhkan kedisiplinan. Protokol transit observasi mengobservasi orang yang sehat, bukan orang yang sakit,” tegas Terawan.(m)