Suararepublik.news – Pasangan suami istri, Ujang Pendi dan Tini Lilis, adalah warga Rt 011/Rw 03 Kelurahan Setu, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, yang hidup sengsara ditengah kota dengan total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2020 hampir mencapai 4 triliun rupiah.

Saat ini, mereka dan lima anaknya tinggal disebuah rumah gubuk berukuran 4×4 meter persegi berlantai masih tanah merah yang berdiri diatas lahan tanah milik Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong dan saat ini juga keluarga tersebut tidak pula mendapatkan bantuan sosial bagi masyarakat terdampak kebijakan PSBB dalam rangka penanganan Corona Virus disesea (Covid-19).

Sang istri, Tini, adalah salah seorang warga pemegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), yang merupakan salah satu program andalan Presiden Jokowi. Namun, sejak 2018 dirinya tidak pernah mendapatkan lagi bantuan program tersebut.

“Saya sudah dua tahun ga dapat lagi bantuan, biasanya dapat perbulannya,

dapat sembako, duit juga dapat 300 ribu tapi dipotong 50 ribu dan harus ngasih. Sekarang ngga dapat lagi, bantuan dampak covid juga ngga dapat,” keluhnya lirih.

Tini menjelaskan, keluarganya tidak mendapat lagi bansos program Keluarga Sejaterah itu semenjak kartu Keluarga Sejaterah miliknya dan beberapa warga sekitar dihilangkan oleh salah seorang petugas pelaksana program tersebut.

“Jadi kemarin saya dan beberapa warga disini kartu penerima bantuan dihilangkan sama petugas yang mengurus pembagian bansos. Pak Efan namanya, kata dia hilang, terus saya dan beberapa warga disini dibuatkan lagi kartu yang baru, warga lainnya pada dapat bantuan, tapi kami ngga dapat lagi bantuan baik uang maupun sembako, saya cek di ATM ga ada uang yang masuk. Ketika saya tanya, kapan kami dapat bantuan, sekalian sembakonya, kata pak Efannya belum turun dari sananya. Sudah dua tahun ngga pernah dapat lagi,” jelasnya saat diminta keterangan.

Sang suami, Ujang Pendi mengatakan selama tidak mendapat bantuan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mereka bertani dilahan tanah milik Puspiptek disekitar gubuknya dan bercocok tanam seperti singkong, pisang dan merawat kambing titipan orang.

“Kita makan seadanya, hasil dari bertani, singkong, pisang, kadang ada aja warga ngasih buat beli beras,” ujar Ujang.

Diketahui, hingga kini anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) berupa Bantuan Sosial (Bansos) pada Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020, untuk masyarakat terdampak kebijakan penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) belum juga dipergunakan. 

Kepala Dinsos Tangsel, Wahyunoto Lukman, menerangkan sebab belum digunakannya anggaran tersebut. Bahkan hingga 14 hari kedepan dalam masa PSBB tahap tiga, dirinya masih belum tahu akan direalisasikan pada siapa Bansos tersebut.

“Belum diserap. Semua keluarga rentan yang perlu diberi Bansos atas usulan Rt/Rw, Lurah, Camat sudah tercover oleh Bansos presiden melalui Kementerian Sosial (Kemensos), dan Pemerintah Provinsi (Pemrov) Banten, tidak boleh duplikasi atau diintervensi lagi dengan Bansos dari APBD Tangsel. Untuk Bansos dari APBD, direalisasikan kepada siapa?, semua sudah tercover,” ujarnya, melalui pesan WhatsApp, Kamis (4/6/2020).(B)