Banyak beredarnya berita-berita yang hoax, membuat Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo meminta kepada seluruh kader dan pengurus Rasa Sejatining Inti Kemanungsan (Rajatikam) untuk berhati-hati. Karena risikonya bisa pidana jika ikut menyebar di media sosial (medsos).

“Mencermati gerakan dinamika yang ada saat ini, saya minta kepada adik-adik di Rajatikam ini untuk hati-hati untuk menyebarkan berita-berita yang ada saat ini. Baca dulu apa isinya, siapa yang mengirim. Walaupun teman sendiri satu organisasi harus dicek,” ujar Mendagri saat memberikan sambutan dalam acara kaderisasi dan pendalaman organisasi Rajatikam 2017 di Yogyakarta, Kamis (21/9/2017).

Menurut Mendagri, jika berita itu tujuannya bukan fitnah dan tidak ada unsur penistaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), tidak ada unsur menebar kebencian, baru boleh dishare.

“Saya mohon adik-adik ini digalang. Jangan sembarangan menyebar berita tidak jelas, karena sekarang jamannya fitnah, memutarbalikan fakta ini harus dihindari,” tegas Tjahjo.

Meskipun begitu, Mendagri menjelaskan orang boleh berpolitik, boleh beda pendapat, boleh beda partai dan mengkritik pun boleh, tapi jika sudah menghina dan mengujar kebencian ini yang harus dihindari.

“Saya minta adik-adik minta lihat TV berita, jangan banyak nonton sinetron. Ikuti perkembangan yang ada. Jangan sampai duduk di organisasi tidak tahu situasi dan kondisi bangsa saat ini,” ujar Tjahjo.

Apalagi, tahun depan sudah masuk tahun politik ada Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019. Untuk itu, Mendagri meminta para kader di Rajatikam agar tidak mengurusi Pilkada, soal nanti memilih siapa calon terbaik dan ada garis dari organsiasi, sebaiknya disampaikan saat-saat terkahir.

“Setelah ini saya minta pengurus DPP nanti melakukan audensi dengan Kapolda dan Gubernur. Sampaikan apa yang bisa kita bantu, walaupun baru kecil tapi sudah punya impian dan ambisi untuk membangun bangsa,” pungkas Tjahjo.