Sejumlah LSM kemanusiaan kompak mengutuk keras penyerangan kantor LBH Jakarta. Ini wujud buruknya perlindungan dan pemenuhan hak untuk berkumpul dan berpendapat.

Demikian disampaikan Komnas Perempuan, Jaringan Gusdurian, dan Amnesti Indonesia Senin (18/9).

“Kami juga menyayangkan semakin buruknya perlindungan dan pemenuhan hak untuk berkumpul dan berpendapat. Reformasi yang diperjuangkan dengan tidak mudah, kini semakin terancam. Provokasi massa dengan menggunakan isu kebangkitan PKI terus berulang dan dibiarkan,” tegas  Ketua Komnas Perempuan Azriana.

Lalu siapa dalang di balik semua itu? Syaviq Ali dari Jaringan Gusdurian menuding kelompok-kelompok a-historis yang tidak melihat posisi LBH Jakarta. Padahal di masa Orde Baru, LBH Jakarta adalah ujung tombak perjuangan demokrasi.

“Mereka adalah kelompok-kelompok a-historis yang tidak melihat posisi LBH Jakarta, dan tidak memahami serta tidak mampu mengisi ruang demokratis yang ada sekarang ini. Tetapi ingin menggasak dan menyerang sebuah organisasi yang telah berjasa bagi demokrasi,” terangnya.

Lanjutnya, peristiwa penyerangan kantor LBH Jakarta menjadi catatan kelam sekaligus tantangan penegakan demokrasi yang dulu lawannya adalah rezim otoriter. Sekarang tantangan perjuangan demokrasi justru datang dari kelompok-kelompok sipil yang mengedepankan kekerasan.

Sementara itu LBH Jakarta menyatakan keheranannya atas tudingan bahwa pihaknya berusaha membangkitkan PKI.

“Kami sudah meyakinkan kepada semua pihak bahkan pihak kepolisian yang juga hadir di lokasi seperti Kapolres dan Kapolda sudah menjelaskan kepada massa, dan meyakinkan bahwa kepolisian selama 2 hari mengikuti full acaranya, melihat sama sekali tidak ada hubungannya dengan komunis atau PKI. Tapi memang massa yang datang di hati dan di kepalanya sudah kuat bahwa ini adalah kegiatan PKI, makanya kami harus diserang,” terang Muhamad Muhammad Isnur.