Drs. Maripin Munthe Ketua Umum Akrindo

Penembakan terhadap  Pimpinan  Redaksi Media Online Lasser News Today Marasalem Harahap di Kabupaten Simalungan Sumatera Utara  baru-baru ini.

Perbuatan ini sangat keji dan tidak berperikemanusiaan. Hal ini disampaikan Ketua Umum Akrindo Drs Maripin Munthe

Korban ditemukan tewas dengan bersimbah darah di dalam mobil. Kejadian ini patut diduga sebagai pelanggaran hak mendasar (azasi) manusia.

Dan Bukan  kali pertama Marasalem Harahap korban pembunuhan dialami seorang wartan diduga aksi pembunuhan terjadi akibat pemberitaan.

Mengingat kembali korban – korban pembunuhan wartan :

  1. Herliyanto, seorang wartawan lepas Tabloid Delta Pos

Sidoarjo ditemukan tewas pada 29 April 2006 di hutan jati Desa Taroka, Probolinggo, Jawa Timur

  • Ardiansyah Matra’is Wibisono Ardiansyah adalah seorang jurnalis Tabloid Jubi dan Merauke TV. Ia ditemukan tewas pada 29 Juli 2010 di Gudang Arang, Sungai Maro, Merauke, Papua dalam kondisi penuh luka.
  • Naimullah Naimullah bekerja sebagai wartawan Sinar Pagi di Kalimantan Barat. Ia tewas pada 25 Juli 1997. 

Naimullah ditemukan tewas dalam mobil pribadi jenis Isuzu Challenger yang saat itu terparkir di kawasan Pantai Penimbungan, Mempawah, Pontianak, Kalimantan Barat.

4. Alfrets Mirulewan Alfrets ditemukan tewas 18 Agustus 2010 di Pelabuhan Pulau Kisar, Maluku Tenggara Barat. Pemred Tabloid Pelangi ini melakukan investigasi kelangkaan bahan bakar minyak di Kisar bersama Leksi Kikilay.

5, Fuad M Syarifuddin (Udin) Fuad Muhammad Syarifuddin adalah seorang jurnalis Harian Bernas di Yogyakarta. Ia dibunuh pada 16 Agustus 1996. Dikabarkan, pembunuhan ini dikarenakan pemberitaan mengenai dugaan korupsi di Bantul.

. 6. Ersa Siregar Ersa Siregar merupakan jurnalis RCTI. Ia tewas ketika melakukan liputan konflik di Nanggroe Aceh Darussalam. Pada 1 Juli 2003, Ersa bersama juru kamera Ferry Santoro dilaporkan hilang di Kuala Langsa. Empat hari berselang, mobil yang digunakan keduanya ditemukan di Langsa. ( Sumber ) Kompas.com – 08/02/2019.

Daripada urusi tes alih status di KPK yang masih perdebatan dari aspek hak azasi, sebaiknya Komnas HAM harus proaktif dan fokus ungkap kasus penembakan jurnalis tersebut.

Sebab, selain berpotensi membungkam kebebasan berkomunikasi (pers) yang merupakan hak mendasar dan melekat pada setiap manusia, tentu termasuk wartawan, juga menghilangkan nyawa seseorang benar-benar tindakan melanggar dan merendahkan hak yang paling azasi manusia yaitu hak untuk hidup atau mempertahankan hidup.

Karena itu, publik pasti menunggu peran maksimal dan kerja keras Komnas HAM yang dibiaya dari pajak rakyat, termasuk dari pajak korban ketika masih hidup, untuk mengungkap dan menuntaskan motif dan tindakan penembakan tersebut dari aspek hak azasi (mendasar) dari manusia. ( SRN )