Namlea(p.buru)SuaraRepublik.News -polsek waiapo ( Polres Pulau Buru) mengungkap kasus pembunuhan yang dilakukan pelaku Mantimbang Nurlatu terhadap Korban Manpapa Latbual yang terjadi diRumah Pelaku desa waiflan

Namun atas kejadian tersebut keluarga korban menuntut korban harus dimakamkan diKampung Pelaku untuk korban dan pelaku dimakamkan secara bersama-sama pada satu liang kuburan.

Paur Humas Polres Buru, Aipda Pol. M.Y. S. Djamaluddin kepada Media ini di Namlea Kabupaten Buru, Selasa (23/022021) menbahwa pada hari Selasa tanggal 23 Pebruari 2021 sekitar pukul 03.00 wit bertempat di areal ketel  Waepulut Desa Waeflan Kecamatan Waelata telah terjadi kasus Pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku Mantimbang Nurlatu terhadap korban Manpapa Latbual yang mengakibatkan korban mengalami luka robek akibat sayatan benda tajam pada bagian leher kiri dan tangan kanan korban dan korban meninggal dunia di TKP. 

Lanjutnya, korban adalah Manpapa Latbual  Alias Mansabar Latbual, (40), Agama Hindu Adat, Alamat Dusun Walumnako Desa Waeflan Kecamatan Waealata sedangkan Pelaku Mantibang Nurlatu (30), Hindu Adat, Desa Watimpuli Kecamatan Lolong Guba Kabupaten Buru.

Ditanya soal Saksi-saksi saat peristiwa ini kata Humas Polres ini bahwa ada dua orang saksi yaitu Olobeo Latbual, (60) dan Nomi Behuku (40) istri korban. Kejadian pembunuhan terjadi pada Selasa 23 Februari 2021 pada areal ketel Waepulut Desa Waeflan Kecamatan Waelata Kabupaten Buru sekitar pukul 03.00 Wit.

Adapun kronologi kejadiannya adalah menurut keterangan dari saksi, Olobeo Latbual (Tdk bisa berbahasa Indo) bahwa pada hari selasa tanggal 23 Februari 2021, pelaku tiba di areal ketel yang satu lokasi dengan milik korban Manpapa/Mansabar Latbual lalu pelaku meminta bantu kepada korban dan saksi  Olobeo Latbual untuk melakukan babeto atau ritual adat untuk mengusir penyakit (menurut keyakinan mereka).

Masih menurut saksi, alasan pelaku kepada korban dan saksi bahwa dia diguna-guna oleh orang. Dalam melakukan ritual adat pelaku meminta istrinya Sdr. Sina Behuku untuk mengambil dua buah gong untuk diberikan kepada Saksi dan Korban (Rangkaian Ritual adat). Setelah itu, pelaku memegang kaki saksi I sebagai rangkaian ritual adat, setelah itu pelaku seperti mau memegang kaki korban tapi tidak dilakukan namun pelaku langsung mencabut parang dan melakukan penganiayaan dengan cara menusuk dan memotong korban dengan parang. Setelah itu saksi langsung melarikan diri dan sempat mendengar ancaman dari pelaku kepada saksi berupa “kata-kata makian”.

Sementara Saksi istri Korban, Nomi Behuku menyampaikan bahwa pada hari Selasa tanggal 23 Februari 2021, sekitar 03.00 Wit dirinya sementara istrahat/tidur di dalam tenda miliknya dan korban yang saling berdekatan dengan tenda atau rumah pelaku Sdr. Mantibang Nurlatu, lalu dirinya mendengar suara teriakan kesakitan suaminya (korban) dari dalam rumah Pelaku, dan dirinya langsung melarikan diri karena merasa takut. Dikarenakan menurutnya bahwa pelaku Mantibang Nurlatu pernah menganiaya atau memotong Istrinya sekitar tahun 2007.

Mengetahu hal tersebut, pihak kepolisian langsung mengambil langkah cepat menuju TKP. Kapolsek Waeapo, Ipda Zainal bersama personilnya menuju ke TKP dengan berjalan kaki menuju tiba di TKP. Baru pada pukul 09.40 wit Kasat Reskrim bersama Personil Reskrim Polres Pulau Buru tiba di TKP dan langsung melakukan olah TKP.

Pada pukul 13.00 wit jenazah korban di bawa ke Puskesmas Waelo untuk dilakukan fisium et refertum. Setelah itu, jenazah korban diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Paur Humas Polres ini menjelaskan, setelah diminta keterangan dari saksi, dan dari keterangan kedua saksi bahwa antara korban dan pelaku tidak pernah ada masalah. Dan saat kejadian (pemotongan) yang dilakukan pelaku kepada korban, saksi tidak dapat melihat dengan jelas karena kondisi rumah gelap tidak ada penerangan.

“Akibat kejadian tersebut pihak keluarga korban marga Latbual dan Nurlatu menuntut supaya korban di makamkan dikampung halam