Suararepublik.news , Kantor Wilayah – DJBC Khusus Kepulauan Riau mengadakan Konferensi Pers terkait serah terima

pelimpahan hasil penyidikan terhadap 2 (dua) kasus tindak pidana dibidang kepabeanan

dan cukai kepada kejaksaan,”Jumat (12/6/20).

Kasus tersebut merupakan penyelundupan Barang Kena

Cukai (BKC) berupa Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) yang berada di Perairan

Selat Singapura dan Perairan Utara Berakit. Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam

upaya mengamankan wilayah perairan Indonesia dari pemasukan barang ilegal.

Kapal yang mengangkut Barang Kena Cukai (BKC) illegal berupa Minuman Mengandung

Etil Alkohol (MMEA) tersebut adalah MV. Sea Ray berbendera Singapura dan KM. Jaya

Lestari tanpa bendera dengan muatan berupa Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA)

tanpa dilekati pita cukai sebanyak 686 (Enam Ratus Delapan Puluh Enam) karton dan 473

(Empat Ratus Tujuh Puluh Tiga) kardus.

“Dengan total nilai barang dari kedua kasus

tersebut sebesar Rp 10.338.106.000 (Sepuluh Miliar Tiga Ratus Tiga Puluh Delapan

Juta Seratus Enam Ribu Rupiah) dan total potensi kerugian Negara mencapai Rp

21.005.720.400 (Dua Puluh Satu Miliar Lima Juta Tujuh Ratus Dua Puluh Ribu Empat

Ratus Rupiah)”

Dari kedua kasus tindak pidana kepabeanan tersebut kini telah selesai dilakukan proses

penyidikan dengan jumlah total tersangka sebanyak 19 (sembilan belas) orang. Kedua

kasus tersebut diduga melanggar pasal 102 huruf a dan/atau huruf b Undang-Undang

Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995

Tentang Kepabeanan Jo. Pasal 50 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 Tentang

Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai Jo. Pasal 55 ayat

(1) kesatu dan/atau Pasal 64 KUH Pidana.

Adapun kronologi dari kasus MV. Sea Ray bermula, Senin,17 Februari 2020

diterima informasi akan terjadi penyelundupan Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA)

berbagai merk dan jenis ke daerah pabean Indonesia. Atas informasi tersebut diperintahkan

Satuan tugas patroli laut Bea dan Cukai untuk melakukan patroli mengantisipasi informasi ini

dan berkoordinasi dengan tim Coastal Surveillance System (CSS) Bea Cukai Batam.

Sekitar

pukul 01.30 WIB dini hari terjadi pengejaran dan pada kesempatan tersebut MV. Sea Ray

sempat bermanuver untuk menghindari petugas serta berupaya membuang barang muatan

ke laut namun tidak lama setelah itu satuan tugas patroli laut Bea dan Cukai melakukan

manuver dan berhasil sandar di MV Sea Ray dan mengamankan Nakhoda serta ABK MV.

Sea Ray. Kemudian pada pukul 02.00 WIB MV. Sea Ray berhasil diamankan dan

selanjutnya semua kru MV Sea Ray dinaikkan ke kapal satuan tugas patrol laut Bea dan

Cukai.

Pada kasus kedua yaitu KM. Jaya Lestari bermula, Jumat, 14 Februari 2020

satuan tugas patroli laut Bea dan Cukai menerima informasi akan terjadi Ship to Ship (STS) Kapal Kayu dengan High Speed Craft (HSC) di perairan Selat Singapura.

Menindaklanjuti

informasi tersebut satuan tugas patroli laut Bea dan Cukai melaksanakan patroli pada

sekitar wilayah tersebut. Kegiatan tersebut kemudian dikoordinasikan dengan Tim Coastal

Surveillance System (CSS) Bea Cukai Batam.

Sekitar pukul 21.05 WIB satuan tugas patroli

laut Bea dan Cukai melihat kapal kayu yang sedang melakukan Ship to Ship (STS) dengan

2 High Speed Craft (HSC). Berdasarkan hal tersebut tim satuan tugas segera memberikan

isyarat lampu sorot dan lampu police agar target berhenti, namun tidak dihiraukan dan target

justru melarikan diri menuju Tanjung Uban.

Dengan tindakan terukur, tim satuan tugas

patroli laut Bea dan Cukai melakukan tembakan peringatan dan 3 (tiga) orang dari tim

speed boat melompat ke kapal kayu untuk menghentikan kapal tersebut. Pada pukul 21.15

WIB kapal KM. Jaya Lestari dapat dikuasai dan petugas segera mengamankan nahkoda dan

2 (dua) orang ABK kapal. Kegiatan konferensi pers ini merupakan bentuk sinergi antara Kantor Wilayah DJBC Khusus

Kepulauan Riau dan Kejaksaan Negeri Karimun serta atas penegahan yang telah dilakukan

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadap MV. Sea Ray dan KM. Jaya Lestari yang

keduanya mengangkut Barang Kena Cukai (BKC) illegal berupa Minuman Mengandung Etil

Alkohol (MMEA) tersebut adalah sebagai upaya dari DJBC untuk menjalankan fungsinya

sebagai Community Protector terkhusus dalam hal pengendalian konsumsi dan pengawasan

peredaran barang kena cukai di masyarakat serta pembebanan pungutan negara demi

keadilan dan keseimbangan perekonomian Negara. Hms/iqb