Pasar properti sedang lesu, inilah alasan yang membuat manajemen Meikarta melakukan promo meikarta yang tayangnya dilakukan gencar di berbagai media massa besar belakangan ini. Iklan Meikarta tersebut ditentang Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)

Demikian keterangan Presiden Direktur Meikarta, Ketut Budi Wijaya, di Maxx Box Orange County, Cikarang, Jawa Barat, Kamis, 17 Agustus 2017 seperti dilansir tempo.

Iklan Meikarta & Pasar Properti Indonesia yang Sedang Lesu

Ketut tidak sepakat kalau iklan meikarta yang dilakukan Manajemen jor-joran (berlebihan) sifatnya, seperti yang dituding berbagai kalangan. “Sebenarnya jorjoran kurang tepat, karena kami tidak ada saingan. Kami melalukan ini karena properti sedang lesu,” kelitnya.

Seperti diketahui, berbagai iklan terkait pembangunan kota Meikarta belakangan ini memang terlihat massif di berbagai media massa besar, baik itu media cetak, online, maupun televisi.

Menurutnya, iklan-iklan tersebut tidak lain demi merangsang masyarakat untuk membeli properti saat ini, yang memang lesu sejak tahun 2014.

Pertumbuhan Pasar Properti Indonesia Belum Stabil

Sebelumnya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap pemerintah terlibat aktif dalam menjaga kestabilan pertumbuhan pasar properti nasional.

“Harus ada pemahaman yang sama di antara pemerintah dan para pelaku usaha properti agar industrinya bisa berkembang dengan baik. Industri properti juga memiliki pengaruh penting bagi industri penunjang lainnya,” kata Rosan P. Roeslani dalam acara Sarasehan dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kadin Bidang Properti di Jakarta, Selasa (11/4 2017) seperti yang diberitakan wartaekonomi.

Padahal, lanjut Rosan, bergairahnya industri properti sangat bagus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang konsisten. Pasalnya industri properti berpengaruh bagi industri-industri penunjangnya, alias memiliki multiplier effect yang signifikan.

Menurut catatannya, selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mampu menyerap tenaga kerja yang massif, sektor properti itu terkait erat dengan 174 industri lainnya. Misalnya, industri keramik, baja, semen, jasa konstruksi dan perencanaan, dan masih banyak lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyayangkan isi iklan Meikarta yang diduga kuat tidak sesuai dengan kenyataannya. Sudah begitu penayangannya dilakukan jor-joran pula. Untuk itu, YLKI menyerukan kepada pihak terkait agar promosi Meikarta ditunda saja terlebih dahulu sampai kemudian aspek-aspek legal beres pengurusannya.