Gunungsitoli,┬áSuararepublik.news – 31 Maret 2021 pukul 08.00 WIB di Salak Madu sidang majelis dihadiri oleh BPH, BPD pendeta, pejabat dan calon pendeta, jumlah peserta yang hadir 159 dari 223 pejabat dengan mematuhi protokol kesehatan.

Ketua Panitia SMD Pdp Arosokhi Hulu, SE menyampaikan pelaksanaan Sidang Majelis Daerah dilaksanakan selama 1 hari karena sebelumnya telah melaksanakan sosialisasi perubahan tata gereja dan materi pembinaan serta pembahasan komisi baik organisasi, program dan keuangan masing-masing perwil. Thema SMD saat ini adalah : Sehati Menuntaskan Amanat Agung Tuhan Yesus. Dalam sidang ini banyak hal yang akan kita bahas dan putuskan secara bersama maka hasilnya akan menjadi pedoman kerja BPD untuk satu tahun ke depan, selama mengikuti persidangan supaya peserta persidangan tetap mematuhi protokol kesehatan pungkasnya mengakhiri.

Ketua BPD Pdt Fatiziduhu Hura, S.Th menyampaikan Sidang majelis daerah  kali ini merupakan sidang majelis yang pertama  dalam periode tahun 2019-2023 yang dihadiri oleh seluruh para pejabat selanjutnya dalam sidang ini dihadiri oleh para calon pejabat dan pejabat yang naik jenjang  dan dinyatakan lulus ujian maka mereka dihadirkan dalam sidang ini, ia berharap bahwa seluruh peserta dapat mengikuti sidang sampai selesai sehingga ada hasil yang dijadikan sebagai pedoman Dalam menunaikan tugas pelayanan ke depan tandasnya mengakhiri.

Ketua Umum BPH GBI Pdt Dr, Rubin Adi Abraham secara Virtual  menyampaikan khotbah Tema SMD tahun ini didasarkan pada Matius 28: 19-20 membangun karakter Ilahi. Diharapkan kepada seluruh pejabat GBI dapat memiliki karakter Kristus yang terpancar  dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Dengan demikian melalui kehidupan dan pelayanan para pejabat GBI misi kerajaan Allah dapat dilakukan sesuai dengan Tata tertib Gereja pasal 68 ayat 2, SMD ini bertujuan untuk mensosialisasikan keputusan-keputusan sinode  dan menetapkan hal-hal yang berlaku secara umum bagi seluruh pejabat di daerah yang bersangkutan.

Disela-sela sidang majelis daerah GBI kepulauan Nias  terdengar dari luar sidang  suara kelompok masyarakat yang sedang demo yang menyampaikan :

1. Mosi tidak percaya pada ketua BPD GBI kepulauan Nias

2. Menuntut pencopotan dan PAW ketua BPD GBI Kepulauan Nias

3. Menolak keputusan ketua BPD GBI kepulauan Nias atas pemberhentian ketua PERWIL, Kabid PI kota Gunungsitoli dan proses rekrutmen calon-calon pejabat yang cacat syarat dan prosedural.

4. Menolak Arogansi dan otoriter ketua BPD GBI kepulauan Nias

5. Ketua BPD GBI kepulauan Nias gagal dalam memimpin

6. Meminta BPH untuk mengaudit keuangan BPD GBI kepulauan Nias

Demonstran yang dipimpin langsung oleh Pdm Nasoaro Waruwu  dengan puluhan masa  lainnya akhirnya diterima oleh BPH dengan ketentuan hanya 3 orang saja perwakilan karena sidang sedang berlangsung, setelah menyampaikan tuntutan secara langsung kepada BPH GBI maka secara resmi BPH GBI menerima langsung tuntutan dari pemimpin aksi Pdm Nasoaro Waruwu dan  berjanji akan menindaklanjuti hal tersebut pada pengurus BPH GBI nantinya  dan demonstran pun kembali dengan tenang dan sidang tetap dilaksanakan dengan tertib aman dan terkendali.

Setelah selesai pleno II, maka dilanjutkan dengan pleno III, di pleno III pelantikan calon pejabat 48 orang dan yang naik jenjang dari pdp ke PDM  sebanyak 23 orang, setelah selesai pelantikan dilanjutkan dengan khotbah oleh Pdt Dr.Heru Cahyono, M.Th, dalam khotbahnya ia menyampaikan bahwa banyak pelayan yang sakit rohani tetapi tidak tahu bahwa ia sedang sakit, setiap pelayan semestinya memiliki roh yang menyala-nyala dalam pelayanan, silahkan kerjakan pelayanan dengan passion, maju mundurnya sebuah gereja tergantung dari gembalanya. Pada dasarnya yang mematikan  passion yaitu : 1. zona nyaman, atau puas dengan hasil yang ada  Yosua 13:1 gunakan kesempatan yang ada secara maksimal, terkadang banyak para pendeta terlena dengan situasi kondisi yang ada. 2. Rutinitas karena sudah biasa dilakukan maka terkadang tidak ada persiapan baik doa maupun khotbahnya biasanya ini dilakukan oleh para pelayan yang jam terbangnya padat, nilai doa harus tetap sama nilainya sehingga pelayanan yang dilakukan memberi hasil yang maksimal tandasnya mengakhiri. Setelah selesai khotbah dilanjutkan dengan  perjamuan kudus. Setelah selesai perjamuan kudus maka dilakukan foto bersama dengan menerapkan protokol keaehatan.