Suararepublik.news – Pakar Komunikasi Politik Emrus Sihombing menilai gerakan mendukung kolom kosong (kokos) akibat hanya calon tunggal dalam pilkada dianggap merupakan tindakan politik ketinggalan kereta .

“Saya kira teman-teman yang melakukan gerakan memenangkan kokos tindakan politik yang ketinggalan kereta. Kenapa dimenangkan? kokos tidak punya program kan lucu, lebih baik yang punya program,” tandasnya, Minggu ((01/11).

Menurutnya, harusnya sejak awal mereka yang mendukung kokos mendorong pasangan calon melalui jalur independen. “Kalau jalur partai tidak tembus karena sesuatu hal, kenapa tidak melalui jalur independen,” ujarnya.

Jika alasannya untuk menyelamatkan demokrasi dengan mendukung kokos, hal itu merupakan persepktif. “Saya pikir sangat persepektif, bisa saja mereka menyatakan itu menyelamatkan demokrasi, dari perseptf mereka,” katanya.

“Kalau mau lebih demokratis, kalau saya berpendapat kalau benar-benar mau lebih demokratis kenapa tidak menghadirkan calon independen, bertarung dong. Jangan bertarung di luar ring, bertarung di dalam ring sajikan petarungnya,”tandasnya.

Jika kokos menang maka sesuai Peraturan maka yang akan memimpin Kota Balikpapan selama 3,5 tahun kedepan adalah Pejabat Wali Kota yang ditunjuk Gubernur. Sehingga kewenangan berbeda dengan Wali Kota yang terpilih.

“Coba bayangkan andaikata menang mereka bergerak, andaikan kokos menang berarti Wali Kotanya. Kalau PJ bisa kah kita mengambil keputusan sama, bukan berarti kita memenangkan calon tunggal, tidak,” ujarnya .

Seharusnya kata dia, calon tunggal tersebut dikritik program dan gagasannya dalam setiap kampanye. “Kritiklah gagasan dan programnya itu. Jadi kan rakyat menjadi tercerdaskan, berarti terjadi pendidikan politik,”  tandasnya.

“Kalau terjadi pendidikan politik biarkan masyarakat memilih, berikan masyarakat itu kemerdekaan jangan giring masyarakat itu untuk memilih tertentu, memenangkan kokos misalnya gak boleh itu,”

“Tapi menurut pandangan saya cerdaskan masyarakat sehingga masyarakat mengambil keputusan yang terbaik bagi dia secara otonomi.” tukasnya ( SRN )