Abdurahman,S.T.,M.T

Dosen Teknik Elektro Universitas Pamulang

 Sejak pandemi covid-19 datang, secara drastis mempengaruhi pola kehidupan masyarakat dunia dan berpengaruh besar terhadap semua bidang baik ekonomi dan pendidikan. Dibidang ekonomi banyak harga saham anjlok, turunnya pendapatan beberapa perusahaan besar yang mengakibatkan PHK atau potong gaji karyawannya. Alhasil banyak karyawan yang kesejahteraannya menurun. Belum lagi para karyawan tersebut harus membiayai sekolah anak-anak mereka dan makan sehari-hari. Ditambah sistem belajar yang dilakukan secara online, paling tidak para orang tua harus mengeluarkan pulsa internet lebih besar dari pada biasanya. Bagaimana dengan anak yang kehidupan keluarganya pas-pasan, tidak punya telpon genggam dengan spesifikasi yang sesuai, agar bisa belajar online? Menurut saya ini harus menjadi tinjauan.

Tatap muka, pembelajaran secara langsung, merupakan belajar yang sangat dianjurkan agar para murid dapat berinteraksi dengan hal-hal terkait pembelajaran. Dibandingkan dengan pembelajaran yang dilakukan secara online. Apalagi pembelajaran tersebut terkait dengan alat praktek.

Ada beberapa metode yang bisa dilakukan dalam pembelajaran online yaitu visual, teks, audio dan video. Untuk pelajaran yang bersifat materi bisa dilakukan dengan metode-metode diatas atau dengan gabungannya, misal visual teks atau visual audio video, tergantung mana yang lebih nyaman dan bisa dilakukan agar pesan materi dari pelajaran tersebut tersampaikan kepada yang dituju.

Permasalahannya adalah bagaimana dengan murid yang dalam proses belajarnya harus dibimbing terus oleh seorang guru atau mentor. Karena kita tahu daya tangkap setiap anak berbeda. Disinilah kreatifitas seorang guru, mentor dan dosen dilatih. Agar anak didiknya mempunyai semangat untuk lebih giat belajar.

Kita tahu bahwa jauh sebelum pandemi ini datang, kita telah mengenal yang namanya bimbel online seperti ruang guru, zenius, kelas pinter dan masih banyak lagi. Ada baiknya juga kreatifitas bimbel online tersebut bisa ditiru, bagaimana mereka menyajikan pelajaran nampak semenarik mungkin, tidak membosankan dan juga tidak monoton. Sehingga para muridnya asyik mengikuti pelajaran yang pada sebagian murid, ditahap pemahaman tertentu terlihat susah, akan tetapi setelah mengikuti pelajaran tersebut nampak terlihat mudah dan mengasikan. 

Bagaimana dengan pelajaran yang kaitannya dengan alat praktek di laboratorium? Memang diakui sulit untuk menggantikannya dengan konsep virtual. Pengembangan laboratorium virtual bisa menjadi salah satu alternative, bagaimana mereka belajar dengan suasana laboratorium. Paling tidak dengan pengembangan laboratorium virtual, para murid mendapat gambaran bagaimana mengaplikasikannya didunia nyata.

Alangkah baiknya apabila metode-metode pembelajaran online yg digunakan sekolah atau universitas, menggunakan metode para bimble online tersebut. Jangan sampai secara virtual mereka terlihat pintar dan mendapatkan nilai bagus akan tetapi kenyataannya terbalik.