Tantangan pembelajaran dunia pendidikan, salah satunya disebabkan oleh perkembangan informasi dan komunikasi di era teknologi saat ini. Peran dosen yang pada mulanya menggunakan teknik pembelajaran konvensional, sekarang dituntut untuk mengetahui teknik pembelajaran menggunakan ICT (information, communication, technology). Perubahan proses pembelajaran dengan komputerisasi ini juga dituntut untuk tetap berpijak pada nilai-nilai religius humanis, hal tersebut dimaksudkan agar terjaga hakikat pendidikan.  

Sebagian universitas saat ini, menggunakan sistem e-learning dalam proses pembelajaran. E-learning merupakan suatu sistem pembelajaran sesuai tujuan dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar (Micheal; 2013).  Sistem e-learning saat ini menjadi solusi dari sistem pembelajaran yang tidak terbatas pada ruang dan waktu, dan solusi meminimalisir interaksi langsung antara dosen dengan mahasiswa di massa pandemi covid 19. Menjadi pertanyaan sebagian masyarakat, bagaimana kualitas kinerja dosen dalam pembelajaran e-learning dan bagaimana pengembangan potensi mahasiswa dalam pembelajaran e-learning.

Sebagaimana yang dikemukakan Loreman (2010) bahwa sistem yang harus disesuaikan dengan mahasiswa, bukan sebaliknya mahasiswa yang menyesuaikan sistem dari hambatan yang dimiliki.  Oleh karena itu, menurut Mahmun (2012) diperlukan kemampuan dosen menggunakan media yang dijadikan metode (technical know-how) agar mahasiswa memiliki ketertarikan terhadap materi, mewakili pesan yang disampaikan oleh dosen.  

Dalam e-learning sudah terdapat sistem mengenai jadwal pembelajaran, kurikulum / modul pembelajaran, video pembelajaran, forum diskusi, soal latihan dan pengukuran daya serap/ hasil kemajuan belajar. Maka pada sistem yang telah teratur tersebut, dibutuhkan pengelolaan yang maksimal pada perwujudan humanis religius dari dosen selaku pengajar. Terlebih untuk mendorong mahasiswa aktif dan kreatif secara mandiri dalam pembelajaran.

Karakteristik dari e-learning yaitu menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) yang disimpan pada sistem komputer, hal tersebut sudah menghilangkan peran dosen dalam pengajaran, artinya mahasiswa dituntut untuk mandiri belajar. Tidak dapat dipungkiri bahwa sistem e-learning bagi sebagian dosen adalah sistem baru. Membutuhkan pelatihan dalam mengoperasionalkan website. Di samping itu, media video pembelajaran juga menjadi hal baru bagi dosen, karena membutuhkan kreatifitas dosen untuk membuat video yang dapat menjelaskan materi pembelajaran. Pada forum diskusi, sering dosen menjawab tanpa memahami bahasa “teks”. Padahal bahasa teks juga membutuhkan artikulasi sehingga ketika mahasiswa membaca penjelasan teks dapat dengan mudah dipahami.

Forum diskusi yang dimaksudkan untuk diskusi materi mata kuliah, namun seringkali dijadikan  forum untuk tugas mahasiswa, sehingga diskusi tidak berjalan aktif namun pasif. Penugasan dosen mengakibatkan mahasiswa hanya terfokus pada penugasan saja tanpa melakukan pemahaman materi pembelajaran. Hingga pada analisis daya serap mahasiswa belum dapat diukur dengan kualitatif hanya pengukuran kuantitatif dilihat dari kehadiran absensi, tugas yang dikerjakan. Dosen hanya memaksimalkan capaian create pada forum diskusi, dan belum memaksimalkan keseluruhan aplikasi dalam sistem e-learning, sehingga terkesan hanya memenuhi kewajiban mengajar tapi tidak memenuhi capaian pembelajaran.

Menjadi hal yang menarik pada pembelajaran e-learning ini, yaitu mahasiswa diajak untuk belajar secara mandiri, namun sayangnya tidak semua mahasiswa mau mendownload dan membaca modul mata kuliah di e-learning. Prosentase mahasiswa yang mendownload materi hanya 60%, dan membaca modul mata kuliah hanya berkisar 40%. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah mahasiswa yang tidak pro aktif untuk membaca komentar dari sesama mahasiswa pada forum diskusi, yang terpenting absen hadir dengan bertanya satu kali, menanggapi satu kali dan tidak memahami keseluruhan isi diskusi.

Pada pembelajaran e-learning cenderung mengabaikan aspek akademik dan aspek sosial, yaitu kurangnya suatu interaksi antara dosen dengan mahasiswa, dan antara mahasiswa dengan mahasiswa. Proses belajar mengajar lebih kearah pelatihan daripada pendidikan itu sendiri. Maka diperlukan tolak ukur yang jelas berdasarkan sikap humanis religius menumbuhkan  budaya akademisi pada proses e-learning. Yaitu mengubah paradigma berpikir mahasiswa, untuk dorongan mahasiswa itu sendiri, sehingga timbul minat untuk melakukan aktivitas dalam belajar. (Talizaro, 2018). Menurut Hasan Langgulung (2003), bahwa membangun nilai mahasiswa yang humanis dan religius, dapat dilihat dari tiga sudut pandang yakni, pertama pengembangan potensi, potensi manusia sebagai karunia Tuhan itu harus dikembangkan. Kedua, pendidikan adalah pewarisan budaya, memindahkan (transmission) nilai-nilai budaya dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Ketiga,interaksi antar potensi dan budaya.

Oleh karena itu, kemandirian pembelajaran dalam e-learning dapat dilihat dari kinerja dosen dan potensi mahasiswa yang dihasilkan.  

  1. Kinerja Dosen dalam E-learning.

Maka menjadi titik tekan untuk kinerja dosen yaitu bagaimana dengan sistem e-learning ini dapat memberikan pemahaman materi kepada mahasiswa. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dosen mempersiapkan berbagai strategi, taktik dalam proses pembelajaran di e-learning. 

  1. Dosen perlu mempelajari aplikasi yang mendukung pembuatan video pembelajaran, serta tehnik yang digunakan agar video pembelajaran tersebut mudah dipahami. Tentu karena setiap materi mata kuliah berbeda dalam terapannya. Video pembelajaran kreatif dengan point-point penting yang menjelaskan secara singkat, yang mampu mengajak mahasiswa untuk komunikatif dalam pembelajaran.
  2. Dosen harus mampu memahami bahasa “teks” pada forum diskusi, sehingga menciptakan diskusi yang aktif untuk mahasiswa. Dosen bukan hanya menjawab pertanyaan, ataupun menjawab komentar dengan kata “baik dan benar”, karena mahasiswa membutuhkan analisis yang memiliki sudut pandang yang beragam. Jika dosen mampu mengkaitkan pertanyaan atau tanggapan diantara pemikiran mahasiswa maka diskusi akan berkembang. Ketrampilan ini juga harus dimiliki oleh dosen.
  3. Dalam tugas mahasiswa pada sistem e-learning, dosen harus mampu memberikan pertanyaan dalam bentuk pengembangan atau mengugah pemikiran mahasiswa yaitu dalam bentuk argumentatif.
  4. Pengembangan Potensi Mahasiswa dalam E-learning
  • learning akan mudah diserap karena menunjang pembelajaran mandiri mahasiswa dengan fasilitas multimedia yang berupa video, teks, zoom meet dalam proses pembelajarannya.  E-learning akan meningkatkan suatu partisipasi aktif mahasiswa, meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa, meningkatkan kualitas materi mahasiswa, kemampuan menampilkan informasi mahasiswa. Untuk itu mahasiswa harus mempersiapkan strategi dalam proses pembelajaran e-learning.
  • Mahasiswa diharapkan mampu meringkas atau membuat skema singkat, sehingga dapat dipahami oleh mahasiswa sendiri.
  • Mahasiswa mampu memaksimalkan fasilitas e-learning dengan bertanya dan membandingkannya pada referensi dari luar, tidak terfokus pada apa yang diberikan oleh dosen di pembelajaran e-learning, baik dari youtube atau informasi edukasi. 

Pada unsur tanggung jawab proses pembelajaran e-learning, mahasiswa dapat menerapkan prilaku karakter (Rosa; 2017) pada olah pikir (cerdas, kritis), olah hati (sikap jujur, beriman), olah raga (sikap tangguh dan disiplin), olah rasa dan karsa (sikap peduli). Demikian juga dengan dosen sebagai ujung tombak pembelajaran dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran karena di era informasi dan komunikasi yang terbuka sekarang ini, dimungkinkan mahasiswa bisa lebih cepat mengetahui ilmu pengetahuan terbaru dibanding dosen. Hal tersebut sebagai kesinergian dosen dengan mahasiswa sebagai wujud implementasi religius humanis dalam sistem e-learning secara mandiri, dimana keduanya akan saling memberikan dampak positif dalam kemajuan pendidikan. ( Ban )