Suararepublik.news, Tulungagung 31/12/2020, – Penanganan limbah baik medis maupun non medis di Puskesmas Wilayah Kabupaten Tulungagung terkesan kurang serius. Berdasarkan penelusuran di Puskesmas Campurdarat yang merupakan salah satu tempat yang ditunjuk untuk  menangani pasien covid -19 untuk tempat menampung sampah sementara sebelum di ambil oleh pihak ke 3 terkesan biasa saja tanpa dilengkapi lemari pendingin.

Kepala Puskesmas saat di mintai pernyataan terkait hal tersebut melalui sambungan telepone menjelaskan ” Untuk pasien penderita Covid-19 yang dirawat inap di Puskesmas Campurdarat sudah melebihi kapasitas, dengan jumlah pasien mencapai 23 Pasien padahal  kapasitasnya hanya 21 maka dari itu kita rawat dulu sambil menunggu puskemas penyangga yang lainnya ada yang kosong sehingga bisa dirawat disana. Kalau Masyarakat umum ingin berobat sementara bisa ke Puskesmas Wates.

Sedangkan untuk penangan limbah B3 tetap dengan pihak ke 3 sesuai kesepakatan dan waktu pengambilannya setiap Dua Minggu sekali, kalau untuk limbah rumah tangga sudah kesepakatan dengan PU dan diambil setiap minggu. Semua hal tentang penanganan limbah di sini ( Puskesmas Campurdarat )sudah ada legalitasnya dari Lingkungan Hidup” jelas kepala Puskesmas Campurdarat dan tanpa menyatakan ada atau tidak lemari pendingin ditempat penyimpanan sementara limbah B3 sebelum diambil.

Dokter Kasil selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung ketika dihubungi melalui sambungan telepon (31/12/2020) terkait hal tersebut menyatakan hal yang berbeda.

 ” Terkait penanganan Limbah Medis sudah melalui pihak ke Tiga sedangkan untuk pengambilan ada jadwalnya” kata Dr. Kasil.

Bahkan menurutnya limbah tersebut harus diambil setiap hari. “Kalau sampe lebih dari satu hari ada one prestasi dari pihak ketiga yang ditunjuk sesuai kesepakatan” kata dr kasil menambahi pernyataannya.

” untuk idealnya memang harus ada Cold Storage untuk penyimpanan limbah tersebut tapi kalau hal tersebut didahulukan keburu pasiennya meninggal dunia karena prioritas utama adalah bagaimana si sakit tertangani dulu apalagi sampai sekarang belum ada bukti kalau penyakit menempel di limbah yang ada”  kata beliau.

Bahkan beliau juga mempertegas siapa yang harusnya bertanggung jawab terkait hal tersebut . “Harus dilihat pihak mana saja yang tidak sesuai kesepakatan, harusnya pihak Lingkungan Hidup lebih proaktif dalam pengawasan karena legalitasnya dari sana” pungkas Dr. Kasil.

Santoso Selaku Kadin lingkungan Hidup sewaktu dihubungi melalui telepon (31/12/2020) atas pernyataan dari Kepala Dinas kesehatan  menyatakan ” Anggaran penanganan limbah medis B3 tersebut sangat besar dan kita tidak mampu menanganinya sehingga ditunjuk pihak ketiga dari Surabaya untuk menangani hal tersebut. Untuk pengambilannya sudah sesuai jadwal pekerjaan dan mereka juga cukup baik dalam pekerjaannya” jelas Santoso.

Bahkan menurut Santoso anggaran untuk pengadaan alat penyimpanan tidak ada.

Untuk lebih jelasnya beliau mempersilahkan bertanya langsung ke Kabid yang menanganinya.

Edi selaku Kabid kebersihan atas masukan Kepala Dinas Lingkungan Hidup tidak bisa menjelaskan ketika dihubungi melalui telepon (31/12/2020).

” kalau terkait limbah B3 secara otomatis kerja sama antara Puskesmas dan  PT” jawab Edi.

Bahkan beliau sendiri lupa akan nama PT yang ditunjuk.

”  menjabat disini masih tiga bulan dan terkait masalah ini masih bingung” Pungkasnya…. (Ok/Yo/Yps/KBT)