Advertorial

SuaraRepublik.News — Walikota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany, memperpanjang masa tanggap darurat bencana Pandemi Covid-19 hingga tanggal 29 Mei 2020. Hal tersebut, sesuai dengan keputusan pemerintah melalui Badan Nasional Penanggungan Bencana (BNPB).

Dalam keterangan persnya kepada sejumlah awak media, Airin menyampaikan bahwa, dengan diumumkannya perpanjangan masa tanggap darurat, maka Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel pun mengeluarkan kebijakan dalam mengimplementasikannya di daerah.

Diantaranya, dengan memperpanjang kegiatan belajar siswa di rumah dan kembali aktif lagi setelah hari raya idul fitri. Hal tersebut dilakukan guna melindungi para siswa dari paparan virus corona.

Lalu kemudian, Pemkot Tangsel juga terus mengoptimalkan himbauan kepada masyarakat untuk menjaga jarak dan bekerja serta ibadah di rumah.

“Pengumuman perpanjangan masa darurat ini akan kita sampaikan hingga tingkat RT/RW agar semua pihak bisa bekerjasama dalam memutus rantai penyebaran virus corona. Pengawasan di lingkungan sekitar agar warga tetap berada di rumah ada hal yang penting saat ini sehingga virus corona tak merebak,” ujar Airin, di Balaikota Tangsel, pada Senin (30/03/2020).

Tak hanya itu, kata Airin, Pemkot Tangsel akan terus memperbarui data perihal sebaran Covid-19. Mulai dari warga yang masuk Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), terkonfirmasi hingga dinyatakan sembuh. Berbagai upaya terus dilakukan agar kasus virus corona ini tak mewabah.

Sementara data kasus Covid-19 di Kota Tangsel pada hari Senin, 30 Maret 2020 yakni 280 orang masuk ODP, 123 orang PDP, 31 orang positf dan enam orang meninggal.

Diakui Airin, merebaknya kasus virus corona di Kota Tangerang Selatan saat ini disebabkan karena kesadaran masyarakat dalam menjalankan himbauan pemerintah masih rendah. Misalnya saja penerapan social distancing maupun physical distancing. Bahkan, Airin mendapatkan laporan jika ada warga yang berkumpul di rumah makan.

“Kasus ini terus meningkat setiap waktu karena kesadaran kita belum tinggi. Kami himbau agar masyarakat bisa menjalankannya sebab ini untuk kesehatan kita semua,” ungkapnya.

Airin juga menuturkan bila hampir 50 persen warga Kota Tangsel bekerja di wilayah Jakarta, Depok dan Bogor. Kesadaran yang rendah dalam menjaga jarak, membuat peluang terpapar semakin besar.

Oleh sebab itu, Pemkot Tangsel melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) beberapa waktu lalu telah mengeluarkan himbauan kepada perusahaan untuk menerapkan sistem Work From Home (WFH). Meski masih ada perusahaan dengan kategori industri tertentu yang mengharuskan pegawainya datang ke kantor, namun penerapan social distancing harus diterapkan.

“Tapi jika ada perusahaan yang diketahui karyawannya positif namun belum melakukan sistem WFH, maka bisa laporkan kepada kami untuk diambil tindakan,” paparnya.

Pada kesempatan tersebut, Walikota dua periode ini juga menuturkan, bahwa kegiatan rapid tes mulai hari ini telah dilaksanakan dan akan dilanjutkan di seluruh wilayah kecamatan. Kegiatan rapid tes akan dilakukan oleh petugas dibarengi juga dengan validasi data terkait warga yang masuk dalam Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

“Jadi, kegiatan rapid tes ini dibarengi juga pendataan. Intinya agar lebih akurat, selain petugas mendapatkan laporan dari rumah sakit yang menangani dan Dinkes Provinsi maupun Kemenkes,” katanya.

Selain itu, Airin kembali menerangkan, Pemkot Tangsel telah mendistribusikan sebanyak 450 unit Alat Perlindungan Diri (APD) yang merupakan bantuan dari Pemprov Banten. Bantuan APD dan alat kesehatan lainnya dari pemerintah pusat dan CSR juga telah didistribusikan melalui Dinas Kesehatan.

Saat ini, Pemkot Tangsel sendiri masih terus melakukan pendataan kebutuhan alat kesehatan lainnya. Melalui pergeseran anggaran APBD, kebutuhan tenaga medis akan terus dipenuhi. “Kita sudah alokasikan dana khusus untuk penanganan ini dari APBD. Jadi, akan kita penuhi,” ucapnya.

Menurut Airin, Pemkot Tangsel masih menunggu keputusan dari pemerintah pusat dan langkah yang diambil dari Pemprov DKI Jakarta terkait karantina wilayah dalam meminimalisir penyebaran COVID-19.

Dikatakan Airin, pihaknya saat ini fokus pada penanganan terhadap pasien yang dalam perawatan, serta mengoptimalkan himbauan kepada masyarakat agar menerapkan social distancing dan bekerja di rumah.

“Kita fokus pada penanganan di wilayah. Kalau keputusan karantina wilayah masih menunggu keputusan pemerintah pusat sebab perlu pertimbangan yang mendalam,” ungkapnya.

Airin juga mengakui bahwa, Pemkot Tangsel tidak bisa mengambil keputusan untuk melakukan karantina wilayah secara sepihak. Sebab, Kota Tangsel merupakan daerah yang terintegrasi langsung dengan Kabupaten Kota lainnya seperti Bogor, Depok, Jakarta dan Tangerang. Menurutnya, hampir 50 persen warga di Kota Tangsel bekerja di luar daerah seperti Bogor, Depok dan sebagian besar Jakarta.

“Kalau memang keputusannya adalah karantina wilayah, kita siap jalankan demi memutus rantai wabah virus corona. Himbauan dari pemerintah, dengan menerapkan social distancing adalah bagian dari karantina untuk diri sendiri. Jika hal itu dijalankan, mata penyebaran bisa ditekan,” katanya.

Disisi lain, Airin menyampaikan bahwa, Pemkot Tangsel juga memberikan apresiasi kepada warga yang telah melakukan pengawasan di lingkungannya.

“Saya dapat laporan ada satu komplek yang membentuk pengawasan dengan pimpinannya adalah ketua RT/RW. Ketika ada warga yang suspect, maka dilakukan karantina dengan memberikan bantuan makanan dan segalanya agar warga tersebut menjalankan isolasi. Ini adalah karantina yang sudah dijalankan dan bisa jadi contoh bagi komplek perumahan lainnya. Harapan saya, imbauan pemerintah dijalankan,” pungkasnya. (ADV).