SuaraRepublik.News -Namlea, Rapat mendengar pendapat antara pihak Eksekutif dan Wakil Rakyat, terkait dengan permintaan dokumen pengelolaan keuangan APBD perubahan terhadap penanggulangan Pandemi Covid-19 Nineteen dan dirumahkan PTT/ Honorer oeh Pemerintah Daerah(Pemda)Buru yang mengakibat keributan alias Ricu berlangsung di Balai Sidang DPRD Rabu Kemarin 24 Juni 2020.

Sidang yang dipimpin Ketua DPRD M. Rum Soplestuny asal Partai Golongan Karya(Golkar) yang didampingi Wakil Ketua, Djalil Mukadar asal Partai Kebangkiatn Bangsa(PKB) dalam rapat mendengar pendapat itu Kata anggota DPRD asal Partai Nasdem, Jhon Lehalima Mengatakan, secara resmi kegitan itu dibuka M. Rum Soplestuni sekaligus memberikan kesempatan untuk Eksekutif untuk memaparkan penggunaan pengelolaan keuangan pandemi covid-19 Nineteen”Ujar Lehalima.

Kemudian dari hasil paparan eksekutif Lanjut Lehalima,, pimpinan sidang memberikan kesempatan untuk anggota DPRD dintaranya, Muh. Waekabu dari Partai Hanura, A.R Tukuboya dari Part5ai Gerindra dan Jhon Lehalima dari Partai Nasdem, untuk menyampikan hal-hal dan pikiran yang sudah disampaikan oleh eksekutif dan selanjutnya saat di berikan kesempatan pimpipinan sidang untuk Beta  sampaikan antara lain terkait dengan:

Permintaan dokumen APBD perubahan tehadap penanggulangan  Covid-19 agar dapat diserahkan kepada DPRD dan Poin ke Dua dilanjutkan dengan pemberhentian PTT yang dirumahkan akibat virus Pandemi Copid-19, namun dalam alur penyapaian Saya itu, belum selesai tiba- tiba tampa izin pimpinan sidang, ada suara sumbang dari Eksekutif yakni, saudara Kadis Pendapatan yakni, Asis Latuconsina serentak bersuara lantang  dengan ucapan Bicara banyak- banyak apa, coba volume suara dikecilkan, dengan sikap dan gerakan tubuh yang membara, hal ini tambah Lehalima,  pimpinan OPD ini sangat menggganggu fisiologi saat Beta berbicara, semunya ini sangat di sesalkan” Kata Jhon.

tambah Lehalima,di DPRD ini telah diatur dalam Tata Tertib(Tatib) dan anggota DPRD dalam menyampaikan pendapat/pokok-pokok pikiran  dalam memberikan pandangan sama sekali tidak bisa dibatasi oleh eksekutif, namanya saja rapat mendengar pendapat, tetapi saudara Asis Latuconsina dengan lantang suara tampa izin pimpinan sidang melakukan protes/memotong suara anggota DPRD yang sedang berbicara, sementara kewenangan itu ada pada pimpinan sidang, namun sayangnya pimpinan sidang tinggal diam yang mengakibat kericuan itu terjadi dalam rapat mendengar pendapat.

Ditambahkan, dengan latang suara saudara Latuconsina, maka dengan hormat Beta/saya minta kepada saudara Kadis Pendapatan untuk lebih baik saudara duduk di kursi DPRD menggantikan saya,namun suara yang dilontarkan Lehalima,lalu dismbut Latuconsina dengan gerakan tubuh lalu berdiri menunjukan anggota DPRD mengatakan, use-use eee use tunggu sekaligus menunjukan Pelungku/ Kepala tangan”Kata Lehalima.

Nah ini adalah sebuah sikap pimpinan OPD yang arogan dan beramoral Premanisme yang mengancam wakil rakyat dalam sidang pembahasan mendengar pendapat Kata Jhon, Kalau pimpinan OPD su bagini par anggota DPRD, bagaimana untuk rakyat jelata nanti, hal ini sangat disesalkan Lehalima.

Kesemuanya pimpinan OPD tersebut menyerang saya pribadi dan kelembagaan,sementara Saya sedang  menjalangkan tugas kelembagaan dengan demikian secara pribadi dan Lembaga meminta dan kepada pimpinan DPRD, agar segera mengeluarkan nota protes kepada pimpinan eksekutif dalam hal ini Bupati Buru agar mengevaluasi atau memberhentikan saudara Azis Latuconsina dari jabatan dan diganti dengan yang lain, karena di nilai moralnya tidak baik dalam hubungan kemitraan,sebagaimana di atur dalam ketentuan undang undang  23 tahun 2014 bahwa, pemerintahan daerah terdiri dari Gubernur, Walikota bersama-sama dengan DPRD  kita adalah pejabat pemerintahan daerah.

Dan hari ini Kata lehalima, tidak tau kenapa,saudara  Latuconsina itu mengancam saya  secara pribadi tidak tau kenapa, mungkin saja yang bersangkutan punya dendam terhadap diri Saya.